Materi Penyuluhan

Pengendalian Hama Tikus Sawah

Pengendalian Hama Tikus Sawah

Tikus sawah (Rattus argentiventer Rob & Kloss) merupakan hama utama tanaman padi dari golongan mamalia (binatng menyusui) yang mempunyai sifat-sifat yang sangat berbeda bila dibandingkan dengan jenis hama utama padi lainnya. Oleh karena itu pengendalian hama tikus diperlukan pendekatan yang berbeda dibandingkan dengan hama padi dari jenis serangga.

Pengendalian hama tikus pada tanamana padi sampai saat ini belum ada yang konsisten, dan belum semua petani memahami cara pengendalian yang benar. Beberapa faktor penyebabnya antara lain : (1) kurangnya monitoring keberadaan hama tikus oleh petani, sehingga sering terjadi keterlambatan dalam pengendalian, (2) masih lemahya pemahman petani terhadap berbagi sifat-sifat biologis hama tikus dan teknologi pengendaliannya, (3) pengendalian belum terorganisir secara baik (bersifat sendiri-sendiri) dan tidak berkelanjutan, (4) sarana pengendalian masih terbatas, (5) masih banyaknya petani yang bersifat “mistis” terhadap tikus yang dapat menghambat pelaksanaan pengendalian.
Pengendalian Hama Tikus Terpadu
Berdasarkan hasil penelitian merekomendasikan alternatif pendekatan pengendalian hama tikus sawah yang telah terbukti efektif yaitu pengendalian hama tikus terpadu (PHTT). Pengendalian hama tikus sawah pada dasarnya adalah usaha untuk menekan populasi tikus serendah mungkin dengan berbagai metode dan teknologi. Pengndalian hama tikus secara terpadu pelaksanaannya didasarkan pada pemahaman biologi dan ekologi tikus, dilakukan secara dini, intensif dan terus menerus dengan memanfaatkan semua teknologi pengendalian yang sesuai dan tepat waktu. Pengendalian difokuskan 2 minggu sebelum dan sesudah tanam agar tikus tidak sawah tidak sempat memasuki periode perkembangbiakan yang terjadi pada setiap stadia generatif padi.
Teknis pengndalian
(1) Kultur teknis
Pengendalian secara kultur teknis diintegrasikan dengan budidaya padi. Metode ini bertujuan mengkondisikan lingkungan sawah, yang merupakan rumah bagi tikus sawah, agar kurang mendukung kelangsungan hidup dan reproduksinya. Beberapa teknik yang dapat dilaksanakan meliputi :
a. Tanam dan panen sermpak
Dalam satu hamparan minimal 50 ha diusahakan tanam serempak. Apa bila tidak mungkin, atur agar waktu selisih tanam tidak lebih dari 2 minggu dengan tujuan untuk membatsi ketersediaan pakan bagi tikus sawah sehingga tidak mampu berkembangbiak.
b. Pengaturan pola tanam
Pada daerah endemik yang dicirikan dengan adanya serangan tikus pada setiap musim tanam, pola tanam padi-padi-bera-padi-padi-palawija, atau padi-palawija-padi dianjurkan untuk dilakukan. Dengan kondisi bera berakibat ketidak tersediaan pakan bagi tikus saawah sehingga dapat memutus siklus hidup dan menekan populasi tikus.
c. Pengaturan jarak tanam
Petak sawah yang terserang hama tikus adalah botak pada bagian tengah petakan. Pada serangan berat daerah tersearng dapat meluas sampai ke tepi petakan dan hanya menyisakan 1-2 baris tanaman padi di pinggir petakan. Hal ini dilakukan tikus untuk melindungi daerah serangannya yang biasanya berada di pematang. Dengan demikian lakukan penanaman dengan sistem tanam jajar legowo, yaitu terdapat lorong panjang terbuka. Dengan cara ini tikus kurang suka dengan lorong-lorong memanjang dan terbuka, karena memungkinkan lebih mudah diketahui oleh predatornya.
(2) Sanitasi habitat
Terutama dilaksanakan pada awal tanam, meliputi pembersihan gulma, semak, tempat bersarang dan habitat tikus seperti batas perkampungan, tanggul irigasi, pematang, tanggul jalan, parit, dan saluran irigasi. Selain itu ukuran pematang diminimalisasi (tinggi dan lebar < 30 cm) untuk mengurangi tempat tikus berkembangbiak. Dengan sanitasi habitat sementara tikus akan kehilangan tempat berlindung, tempat membuat sarang dan pakan alternatif.
(3) Fumigasi (pengemposan massal)
Dilakukan serentak pada awal tanam dengan melibatkan seluruh petani menggunakan alat pengempos. Setelah pengemposan lakukan penutupan lubang tikus rapat-rapat dengan menggunakan tanah/lumpur agar tikus tidak dapat keluar dan mati bersama anak-anaknya. Selain itu penutupan lubang juga dimaksudkan agar struktur tanah pematang/tanggul, irigasi tidak menjadi rusak. Fumigasi dilakukan sepanjang areal pertanaman terutama pada stadia generatif.
(4) Penerapan TBS
Trap barrier system (TBS) atau system bubu perangkap terutama di daerah en-demik tikus dengan pola tanam serempak.
TBS terdiri dari :
• Tanaman perangkap yaitu tanaman padi ditanam 3 minggu lebih awal berukuran 25 x 25 m untuk 10-15 ha
• Pagar plastic atau terpal setinggi 60 cm yang ditegakkan dengan ajir bambu dengan bawahnya terendam air
• Bubu perangkap dipasang pada setiap sisi TBS dibuat dengan ram kawat dengan ukuran 20 cm x 20 cm x 50 cm dilengkapi pintu masuk berbentuk corong dan pintu untuk mengeluarkan tangkapan tikus.
(5) Penerapan LTBS
Linier Trap Barrier Sistem (LTBS) atau system bubu perangkap linier merupa-kan bentangan pagar plastik minimal sepanjang 100 m tanpa tanaman perangkap dilengkapi dengan bubu perangkap. Bubu perangkap dipasang secara berselang seling sehingga bias menangkap dari dua arah (habitat dan sawah) pada saat bera, olah tanah, dan 1 minggu setelah tanam. Setelah tanaman padi rimbun bubu perangkap dipasang dengan mulut corong perangkap menghadap habitat tikus. Pemaangan LTBS dilakukan di dekat habitat tikus seperti tepi kampong, sepanjang tanggul irigasi dan tanggul jalan.

Related Articles

Back to top button